Catatan Kopi Menjelang Jum’at
Oleh : Sofyan (Pengamat Politik)
Jumat, 10 April 2026
Suaradiksi.com - Menjelang Jum’at, saya duduk sejenak di warung kopi. Seperti biasa, meja kupi tak pernah benar-benar sunyi, ia menjadi ruang di mana pikiran-pikiran bertemu, beradu, lalu mengalir menjadi percakapan yang kadang sederhana, kadang juga penuh makna.
Pagi ini, diskusi tiba-tiba berbelok ke isu yang cukup hangat: wacana pergantian Ketua DPRA.
Nama-nama yang muncul masih didominasi oleh figur lama. Mereka yang sudah lama berada di lingkar kekuasaan, dengan pola dan gaya kepemimpinan yang relatif sama. Namun di tengah percakapan itu, muncul satu gagasan yang terasa berbeda, bagaimana jika Mualem berani mendorong Bunda Salma sebagai Ketua DPRA dari Partai Aceh?
Gagasan ini bukan sekadar alternatif. Ia adalah kemungkinan terobosan.
Bunda Salma berpotensi menjadi perempuan pertama yang memimpin DPRA. Tapi lebih dari itu, ia membawa karakter yang selama ini jarang tampil dominan dalam politik Aceh: tenang, akomodatif, dan bekerja tanpa banyak kegaduhan.
Dalam situasi Aceh hari ini, kualitas seperti itu bukan kelemahan, melainkan kebutuhan.
Jika kita menengok ke belakang, peran Bunda Salma di tengah masyarakat bukanlah sesuatu yang asing. Dalam berbagai situasi, termasuk saat banjir, ia hadir dengan pendekatan yang sederhana namun nyata. Ia tidak banyak berbicara, tetapi bekerja. Dan dalam politik, kerja nyata sering kali lebih berharga daripada retorika panjang.
Ini menjadi modal penting, bukan hanya untuk memimpin, tetapi juga untuk membangun kembali kepercayaan.
DPRA adalah lembaga kolektif dan kolegial. Ia tidak bisa dipimpin dengan gaya satu arah, apalagi seperti organisasi dagang yang serba transaksional. Kepemimpinan di dalamnya membutuhkan kemampuan merangkul, mendengar, dan menyatukan perbedaan.
Di sinilah relevansi Bunda Salma menjadi terasa.
Ia berpotensi menjadi jembatan—bukan hanya antar fraksi, tetapi juga antara lembaga dengan rakyat. Sosok yang tidak membawa beban konflik berlebihan, namun cukup kuat untuk menjaga keseimbangan.
Tentu, ini bukan tanpa tantangan. Politik Aceh tidak pernah sederhana. Namun jika perubahan ingin benar-benar dimulai, maka keberanian untuk memilih figur yang berbeda adalah langkah awal yang tidak bisa dihindari.
Di meja kopi pagi ini, saya tidak menemukan kesimpulan pasti. Tapi satu hal yang terasa jelas, Aceh sedang membutuhkan energi baru.
Dan mungkin, Bunda Salma adalah bagian dari jawaban itu.


