![]() |
| Halim Abe, Juru Bicara KPA Kuta Pase |
Suaradiksi.com. Lhokseumawe – Enam belas tahun telah berlalu sejak wafatnya Wali Nanggroe Aceh, Tgk. Hasan Muhammad di Tiro. Namun, bagi masyarakat Aceh, perjalanan waktu tidak serta-merta menghapus jejak pemikiran dan cita-cita besar yang beliau tinggalkan. Justru pada momentum haul ke-16 ini, pertanyaan yang layak diajukan bukan lagi tentang siapa Hasan di Tiro, melainkan sejauh mana Aceh telah melanjutkan dan mewujudkan warisan perjuangannya.
Hasan di Tiro dikenang bukan sekadar sebagai tokoh sejarah atau simbol perjuangan Aceh. Ia adalah sosok yang meletakkan fondasi tentang pentingnya martabat, keadilan, identitas, dan kemandirian bagi rakyat Aceh. Perjuangan yang dirintisnya lahir dari keyakinan bahwa masyarakat Aceh berhak hidup sejahtera, dihormati, serta memiliki kesempatan menentukan masa depannya sendiri.
Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi Aceh saat ini, nilai-nilai tersebut tetap relevan. Aceh telah memasuki era damai dan pembangunan, namun masih dihadapkan pada persoalan kemiskinan, kualitas pendidikan, pengangguran, tata kelola sumber daya alam, hingga kebutuhan memperkuat daya saing generasi muda. Karena itu, semangat perjuangan yang diwariskan Hasan di Tiro tidak boleh berhenti sebagai kenangan sejarah semata.
Perjuangan masa kini memiliki wajah yang berbeda. Jika generasi terdahulu berjuang dalam situasi penuh keterbatasan dan konflik, maka generasi sekarang dituntut memenangkan perjuangan melalui ilmu pengetahuan, integritas, inovasi, dan kerja nyata. Membangun pendidikan yang berkualitas, memperkuat ekonomi rakyat, memberantas korupsi, menjaga persatuan, serta menghadirkan pemerintahan yang berpihak kepada masyarakat merupakan bentuk perjuangan yang relevan di era saat ini.
Haul ke-16 Hasan di Tiro sejatinya menjadi ruang refleksi bersama untuk mengevaluasi perjalanan Aceh pasca perdamaian. Sudahkah hasil perjuangan yang diperoleh dengan pengorbanan besar benar-benar dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat? Sudahkah kebijakan pembangunan mampu menghadirkan keadilan dan kesejahteraan yang merata? Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi penting agar cita-cita besar yang pernah diperjuangkan tidak kehilangan arah.
Kemajuan Aceh tidak hanya diukur dari pembangunan infrastruktur atau pertumbuhan ekonomi semata. Lebih dari itu, kemajuan harus tercermin dari kemampuan menjaga nilai-nilai keislaman, adat istiadat, budaya, serta marwah masyarakat Aceh yang selama ini menjadi identitas dan kekuatan daerah.
Enam belas tahun setelah kepergiannya, warisan terbesar Hasan di Tiro bukan hanya kisah heroik tentang perjuangan masa lalu. Warisan itu adalah keberanian untuk membayangkan Aceh yang lebih baik, lebih adil, lebih sejahtera, dan lebih bermartabat. Sebuah cita-cita yang hanya dapat diwujudkan apabila seluruh elemen masyarakat mampu bersatu dan bekerja untuk kepentingan rakyat.
Karena itu, penghormatan terbaik kepada Tgk. Hasan Muhammad di Tiro tidak cukup diwujudkan melalui seremoni, doa, atau mengenang jasa-jasanya. Penghormatan yang sesungguhnya adalah memastikan nilai-nilai perjuangan yang beliau wariskan tetap hidup dalam kebijakan, kepemimpinan, dan pengabdian kepada masyarakat.
Momentum haul ke-16 ini hendaknya menjadi pengingat bahwa perjuangan untuk membangun Aceh belum berakhir. Bentuknya boleh berubah seiring perkembangan zaman, tetapi tujuan besarnya tetap sama, yakni mewujudkan Aceh yang maju, berkeadilan, bermartabat, dan diridhai Allah SWT, sebagaimana cita-cita yang pernah diperjuangkan oleh Hasan di Tiro.
Penulis: Halim Abe
Juru Bicara KPA Kuta Pase


