Suaradiksi.com. Lhokseumawe — Pagi itu, Jumat (27/2), udara di Lhokseumawe masih lembut oleh kesejukan subuh. Namun dari Lapangan Hirak, suara-suara merdu mulai menggema, bersahutan dengan rasa haru para orang tua yang menyaksikan.
Lebih dari 50 anak usia dini berdiri bergiliran di atas panggung sederhana, melantunkan adzan dengan penuh percaya diri.
Lomba adzan ini menjadi salah satu rangkaian kegiatan dalam Bazar Ramadhan yang digelar sejak 25 Februari hingga 1 Maret 2026. Meski sederhana, suasana tampak meriah seolah semangat Ramadhan datang lebih awal, disambut lantunan indah dari bibir-bibir kecil yang mulai belajar mengenal panggilan suci umat Islam.
Di sela acara, Tgk Badiuzzaman, salah satu dewan hakim, menuturkan bahwa kegiatan ini bukan sekadar kompetisi, tetapi ruang tumbuh bagi anak-anak.
“Diselenggarakannya perlombaan ini sebagai langkah meningkatkan kemampuan dan kepercayaan diri pada anak usia dini, sekaligus menanamkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT pada bulan suci Ramadhan,” ujarnya.
Para peserta, yang datang dari berbagai sekolah dan TPQ, terlihat antusias. Banyak di antaranya baru pertama kali tampil di depan umum, namun wajah-wajah gugup itu berubah menjadi bangga setelah menyelesaikan lantunan adzan di hadapan penonton.
Tgk Badiuzzaman menambahkan bahwa lomba seperti ini memiliki makna yang jauh lebih panjang daripada sekadar acara musiman.
“Kegiatan ini juga sebagai bekal pengalaman bagi generasi penerus, calon da’i yang nantinya akan berbakti dan menyebarkan tuntunan ajaran Islam yang berdasar pada Al-Qur’an,” jelasnya.
Menurutnya, keberanian tampil di usia dini akan menjadi fondasi penting bagi lahirnya generasi yang mampu menjaga nilai-nilai agama di tengah perkembangan zaman.
Bazar Ramadhan tahun ini tidak hanya menghadirkan berbagai kuliner dan kerajinan khas, tetapi juga kegiatan edukatif dan spiritual yang memperkaya pengalaman masyarakat. Dari lapangan, terdengar tepuk tangan kecil—sebuah penghargaan sederhana bagi anak-anak yang baru saja belajar menjadi pemberi seruan kebaikan.
Dan pagi itu, Lhokseumawe seakan mendapat pengingat lembut: bahwa masa depan dakwah Islam bisa jadi sedang tumbuh dari suara-suara kecil yang belajar memanggil umat untuk mendekat kepada Sang Pencipta.


