Suaradiksi.com. Lhokseumawe – Pada masanya, Lhokseumawe pernah menjelma menjadi salah satu kota paling sibuk dan kosmopolitan di Pulau Sumatera. Julukan sebagai kota “petrodollar” bukan sekadar isapan jempol, melainkan refleksi dari geliat ekonomi yang ditopang industri gas raksasa, terutama kehadiran PT Arun yang mengubah wajah daerah tersebut secara signifikan.
Di tengah gemerlap itu, berdiri sebuah ikon kebanggaan masyarakat: Cunda Plaza, pusat perbelanjaan modern pertama dan terbesar di Aceh kala itu.
Simbol Kota Metropolitan di Ujung Selat Malaka
Pada era 1990-an, suasana Lhokseumawe tak ubahnya kota metropolitan. Deru mesin becak motor lawas seperti DKW dan BSA menggema di jalanan, berpadu dengan lalu lalang bus perusahaan yang mengangkut anak-anak karyawan menuju sekolah. Aktivitas kota berlangsung sejak pagi hingga malam, menciptakan ritme kehidupan urban yang dinamis.
Di malam hari, langit kemerahan akibat pancaran api buangan gas dari kilang menjadi pemandangan khas yang sulit dilupakan. Lampu-lampu kota menyala terang, menandai geliat ekonomi yang begitu hidup di kawasan pesisir Selat Malaka tersebut.
Cunda Plaza hadir sebagai simbol modernitas. Gedung berlantai empat berwarna merah muda itu menjadi magnet bagi masyarakat dari berbagai daerah. Tak hanya sekadar pusat belanja, tempat ini juga menawarkan pengalaman hiburan yang kala itu tergolong mewah untuk ukuran Aceh.
Pusat Hiburan dan Gaya Hidup Modern
Memasuki Cunda Plaza, pengunjung disambut dengan udara sejuk dari pendingin ruangan berteknologi AC central sebuah kemewahan pada masa itu. Di lantai dasar, berbagai restoran ternama hadir, termasuk jaringan internasional yang sebelumnya hanya bisa dilihat melalui televisi.
Pengunjung juga dapat menikmati kemudahan eskalator untuk berpindah antar lantai, sesuatu yang masih jarang ditemui di daerah lain di Aceh saat itu.
Tak hanya itu, arena bermain anak menjadi daya tarik tersendiri. Wahana seperti kereta semi roller coaster, bomcar, hingga permainan bertema robot menjadi favorit keluarga. Kehadiran fasilitas hiburan ini membuat Cunda Plaza menyerupai pusat perbelanjaan besar di luar Aceh.
Setiap akhir pekan, terutama malam Minggu, kawasan ini dipadati pengunjung. Lampu warna-warni menghiasi bangunan, kendaraan memenuhi area parkir, dan deretan ruko di sekitarnya turut menggeliatkan ekonomi lokal.
Runtuh di Tengah Gejolak Reformasi
Namun, kejayaan itu tak berlangsung selamanya. Memasuki akhir 1990-an, Indonesia dilanda gelombang reformasi yang disertai gejolak sosial di berbagai daerah. Lhokseumawe pun tak luput dari dampaknya.
Aksi demonstrasi dan kerusuhan sosial yang terjadi saat itu merembet ke berbagai sektor, termasuk pusat-pusat ekonomi. Sejumlah pertokoan milik warga, khususnya etnis Tionghoa, menjadi sasaran penjarahan. Cunda Plaza termasuk salah satu yang terdampak.
Pasca peristiwa tersebut, aktivitas di pusat perbelanjaan itu terhenti total. Hingga kini, tidak ada kejelasan mengenai alasan pasti mengapa gedung tersebut tidak lagi dioperasikan.
Kini Tinggal Kenangan
Lebih dari dua dekade berlalu, Cunda Plaza yang dulunya megah kini berdiri sunyi. Bangunan berwarna merah muda itu tampak kosong dan suram, menjadi saksi bisu masa kejayaan yang pernah dimiliki Lhokseumawe.
Kawasan di sekitarnya pun kehilangan denyut kehidupan seperti dahulu. Banyak ruko yang terbengkalai, seolah menegaskan bahwa konflik dan perubahan zaman telah memadamkan gemerlap kota yang pernah dijuluki metropolitan itu.
Cunda Plaza bukan sekadar bangunan tua, melainkan penanda sejarah bahwa Lhokseumawe pernah berada di puncak kejayaan ekonomi, sebelum akhirnya meredup dan menyisakan cerita bagi generasi berikutnya.
Sumber : https://www.facebook.com/share/p/1AscMSLUfa/ (FB An Agus)


