Suaradiksi.com. Bireuen — Minggu, 14 Februari 2026, menjadi hari yang panjang dan berat bagi warga Desa Kappa, Kecamatan Peusangan. Meski hanya berjarak sekitar 15 kilometer dari jalan nasional Medan–Banda Aceh, desa ini terasa seperti berada di ujung dunia.
Tiga bulan pascabencana banjir bandang, Desa Kappa masih terisolasi total. Listrik belum menyala, jaringan seluler mati, dan internet tak dapat dijangkau. Warga hidup dalam sunyi yang menyesakkan, seolah dunia luar tak lagi mengingat keberadaan mereka.
Banjir bandang yang dipicu jebolnya bendungan karet itu meluluhlantakkan hampir 90 persen wilayah desa. Rumah-rumah porak poranda, sawah tertimbun lumpur setebal hingga tiga meter, dan sumber air bersih tercemar. Mayoritas warga yang menggantungkan hidup sebagai petani kehilangan mata pencarian sekaligus masa depan yang mereka harapkan.
Situasi semakin berat karena akses fisik pun terputus. Beberapa jembatan desa roboh, sementara jalan berlumpur tak bisa dilalui kendaraan. Barang bantuan sulit masuk, warga sulit keluar. Desa Kappa seperti terkurung dalam keterasingan, memandangi dunia normal dari kejauhan.
Tanpa sinyal dan internet, jeritan warga nyaris tak terdengar. Malam hari dilalui dalam gelap total. Genset yang pernah menjadi harapan terakhir pun sudah sebulan tak menyala karena ketiadaan BBM. Warga hanya bisa patungan membeli bahan bakar untuk menyalakan lampu sebentar saja sebelum kegelapan kembali menyelimuti desa.
Di tengah kesunyian itu, para relawan dari organisasi kemanusiaan Garis Depan.org datang dari Jakarta dan menetap tiga hari di Bireuen. Mereka menembus jalan rusak dan jembatan darurat untuk mencapai Desa Kappa, membawa bantuan logistik serta menggelar sesi trauma healing bagi anak-anak dan orang dewasa.
Sedangkan di dusun bivak kecamatan peusangan tempat Ralawan Garis Depan.org menginap di pemukiman warga, lampu PLN masih padam total sampai saat ini.
Ketua Relawan Garis Depan.org, Inggit Ambar Wulan, tak mampu menyembunyikan keterkejutannya melihat kondisi desa. “Terus terang, bantuan yang kami bawa ini tidak cukup. Apa yang kami temui jauh lebih miris dari bayangan kami. Desa ini gelap, terputus, dan bertahan dalam kondisi darurat. Ini tidak boleh ditutup-tutupi,” ujarnya dengan suara bergetar.
Ia meminta pemerintah pusat dan daerah turun langsung ke lokasi. “Kami berharap pemerintah datang, melihat sendiri, dan bertindak. Warga di sini bukan angka statistik. Mereka manusia, anak-anak, lansia, petani yang berhak hidup layak,” tegasnya.
Aminah (70), seorang lansia yang kini tinggal di rumah darurat, tak kuasa menahan tangis ketika menceritakan kondisi yang ia hadapi.
“Kamoe manusia sit hay neuk, pu hana hate awak rayeuknyan… malam sit geulap buta, hana jaringan sapu. Lagee donya lua hana tingat kamoe manteng na. Trouh relawan, lagee na yang teuingat keu tanyoe,” ucapnya lirih, air mata jatuh di pipinya yang renta.
(Kami ini manusia juga, Nak. Apakah para pejabat tidak punya hati nurani. Kami petani, hidup dari tanah. Sekarang tanah rusak, jembatan putus, malam gelap, tak bisa hubungi siapa pun. Saat relawan datang, rasanya seperti dunia mengingat kami lagi.)
Rahman, warga lainnya, kehilangan seluruh sawah dan penghasilannya. “Anak-anak kami trauma setiap hujan turun. Kami hanya ingin hidup normal kembali, bisa menanam, bisa bekerja. Jangan biarkan kami terus terisolasi,” ujarnya dengan suara parau.
Saat malam kembali turun, Desa Kappa kembali tenggelam dalam gelap dan sunyi. Jembatan-jembatan terputus berdiri bisu, sawah-sawah rusak terhampar seperti luka yang belum sembuh.
Bantuan relawan telah membawa secercah harapan, namun warga Desa Kappa masih menunggu kedatangan pemerintah, menunggu cahaya benar-benar menyala, dan menunggu hari ketika mereka tidak lagi merasa dilupakan sebagai manusia.


