Suaradiksi.com. Banda Aceh – Suasana penuh kehangatan dan semangat kolaborasi mewarnai pertemuan antara Kementerian Pendidikan Singapura dan para pimpinan sekolah serta perwakilan guru SMP se-Kota Banda Aceh. Kegiatan ini digelar dalam bentuk workshop khusus pada Kamis malam, 17 Juli 2025, di Meuligoe Wali Nanggroe Aceh.
Acara ini difasilitasi langsung oleh Wali Nanggroe Aceh, Paduka Yang Mulia Tgk. Malik Mahmud Al Haythar, sebagai wujud nyata komitmen memperkuat kerja sama internasional di sektor pendidikan.
Dari pihak Singapura hadir Willy Kurniawan (Manajer Utama Kementerian Pendidikan Singapura), Jerrica Yap Wee Ping (Konsul Konsulat Jenderal Singapura), serta Wei Kit (Manajer Kementerian Pendidikan Singapura).
Sementara itu, Wali Nanggroe didampingi anggota Majelis Tuha Peut Prof. Dr. Syahrizal Abbas, Tgk. Darwis Jeunieb, Staf Khusus Dr. Muhammad Raviq, Dr. Rustam Effendi, Katibul Wali Abdullah Hasbullah, dan sejumlah pejabat Keurukon Katibul Wali.
Hadir pula Kadis Pendidikan Aceh Marthunis dan Kadis Pendidikan dan Kebudayaan Kota Banda Aceh Sulaiman Bakri.
Kerja Sama yang Sudah Lama Direncanakan
Kabag Kerjasama dan Humas Wali Nanggroe, Zulfikar Idris, menjelaskan bahwa workshop ini merupakan tindak lanjut dari rencana kerja sama pendidikan yang telah digagas sejak lima tahun lalu antara Wali Nanggroe dan Pemerintah Singapura.
Dalam sambutannya, Wali Nanggroe menegaskan pentingnya peningkatan mutu pendidikan di Aceh pasca-konflik. Menurutnya, keistimewaan Aceh sebagaimana diatur dalam UUPA (UU No. 11 Tahun 2006) memberi peluang besar untuk menjalin kerja sama internasional demi membangun pendidikan yang berdaya saing.
“Berbagai bentuk kolaborasi terus kita upayakan, mulai dari penyediaan beasiswa, program magang, pertukaran siswa antarnegara, pemberian premi untuk guru dan tengku dayah, perbaikan kurikulum, hingga lokakarya seperti hari ini,” ujar Tgk. Malik Mahmud.
Belajar dari Keberhasilan Singapura
Dalam kesempatan itu, Wali Nanggroe menyoroti keberhasilan Singapura yang mampu menjadi negara maju meski tidak memiliki kekayaan alam.
“Singapura itu kecil dan tidak punya sumber daya alam seperti Aceh, tapi mereka punya pemimpin visioner dan manajemen negara yang baik. Jika pendidikan Aceh dikelola dengan baik, kita pun bisa melahirkan pemimpin berkualitas dan pemerintahan yang berintegritas,” tegasnya.
Beliau juga menekankan agar Pemerintah Aceh segera menindaklanjuti kerja sama ini agar membawa dampak nyata bagi kemajuan pendidikan.
Paparan dari Kementerian Pendidikan Singapura
Dalam sesi workshop, Willy Kurniawan memaparkan sistem pendidikan Singapura, peluang beasiswa, serta program pertukaran pelajar yang dapat diakses sekolah-sekolah di Aceh.
“Kami ingin mengeksplorasi potensi kolaborasi dengan sekolah-sekolah di Aceh, mengenal lebih dekat para pimpinan pendidikan di Banda Aceh, dan memperkenalkan program-program Kementerian Pendidikan Singapura,” ujar Willy.
Acara ini juga diisi sesi tanya jawab yang interaktif antara para guru Aceh dengan pihak Kementerian Pendidikan Singapura.


