Iklan

Perjodohan dari Tuhan Jilid II

Redaksi
23 Maret 2019
Last Updated 2025-02-02T12:39:32Z
Premium By Raushan Design With Shroff Templates

Kopi terakhir di sabtu malam yang diwarnai dengan kepingan gelisah seakan menyeruak di benak ini. Yaaa, gelisah yang mendatangi kelajanganku. Sang bintang yang setia menemani sang bulan seakan sedang mengeluarkan lidahnya untuk mencibir kelajanganku. Kebanyakan orang tua khawatir jika anaknya yang sudah berumur belum juga menikah. Bukan sekedar lagi bertanya, “Kapan nikah?”, tetapi juga mulai berencana untuk menjodohkannya. Sebagai anak, tentu ada perasaan tidak enak jika menolak keinginan orang tua.

Apalagi aku mulai tertekan dengan pertanyaan tentang menikah terus menerus, mulai dari orang tua, om, tante, teman-teman, dan keponakan serta yang terakhir adikku. Yang tambah membuat aku kepikiran adalah saat adikku sudah memiliki calon untuk menikah dan si dia berhasil melangkahiku dalam status pernikahan.

Padahal umurku telah memasuki kepala tiga atau 30 tahun, orang tua terlebih Ibu mulai panik saat anaknya belum juga menikah. Kebetulan dia berencana untuk mengenalkan anak temannya kepadaku, dan aku menyebutnya “Perjodohan dari Tuhan”.

Akhirnya aku mulai percaya dengan kisah cerita perjodohan yang terjadi pada abad ke-20 di Sumatra Barat. Seperti zaman Siti Nurbaya namun perjodohan yang terjadi pada kisahku adalah perjodohan di era milenial.

Kisah itu berawal dari cengkrama ringan kedua orang tua kami sambil menikmati secangkir kopi di sore hari (yaa, kopi selalu saja membawa otak untuk menimbulkan ide-ide yang terkadang diluar nalar), mereka saling bertanya tentang anak-anak mereka dan timbullah niat untuk menjodohkan kedua anak mereka. Namun disini calon jodohku sudah memiliki calon pendamping, berbeda denganku yang masih memakai gelar single alias “jomlo”.

Setelah lama bercengkrama, Negosiasi diantara kedua orang tua kami pun dimulai:
Pak Saleh : Bagaimana jika kita menjodohkan anak lajangku dengan anak gadis bapak? (Sambil menyerupuk kopinya),
Pak Majid : Saya rasa itu ide yang bagus tapi apakah anak bapak mampu menaklukan hati anak gadis saya?
Sambil tersenyum Pak Saleh Menjawab : “Bapak tidak usah khawatir, saya sangat yakin terhadap anak saya, karena anak saya itu seorang insinyur dan dia pasti punya caranya untuk menaklukkan hati anak gadis bapak”

Dan negosiasi diantara mereka berakhir dengan gelak tawa sambil menghabiskan kopi sorenya.

Aku sangat teringat di malam itu, ketika ibu ku bertanya perihal apakah sudah ada calon pendamping hidup, sebetulnya aku sangat enggan menanggapi pertanyaan tersebut dan pada akhirnya ibuku mencoba mengenalkan aku dengan anak temannya tersebut.

Aku diam tanpa mengatakan apapun pada orang tuaku tentang keresahan ini, itu bukan jawaban. Aku tidak mau dikatakan posesif, tapi tidak ingin dicela naïf. Ujungnya, aku menyerah mempertanyakan tentang itu. Memilih sabar seperti yang sudah-sudah, mereka juga sudah tahu bahwa dia sudah memiliki pasangan, tapi ibu selalu berkata, “Semoga Tuhan meridho’i perjodohan ini."

Aku sempat tidak menerima dengan perjodohan yang digagasi oleh orang tuaku, begitupun dengan si “nona”. Meski di awal percakapan kami terasa sangat asik namun kerap menyimpan karaguan. Kadang harus melalui fase yang sangat rumit. Hingga opini-opini dari orang terdekat selalu saja ikut mambaur bersama pikiran yang kerap jungkir balik untuk mengatakan “hentikan saja perjodohan dari orang tuamu”.

Aku hanyalah pria yang tak bisa lepas dari cinta. Entah itu cinta yang nyata ataupun maya. Malam itu merupakan awal dari rasa yang belum pernah aku kenal sebelumnya, rasa yang menyebabkan suara sang nona bertengger dipikiranku, rasa yang selalu tergiang dibenakku.

Tuhan selalu disampingku, membantu dalam melewati dari segala upaya untuk mengakhiri semua ini sehingga aku mampu melewati fase dilema, akhirnya kami berhasil meyakinkan hati untuk perjodohan dari Tuhan dan menetapkan tepat ditanggal 20 Februari 2019 menjadi hari pertunangan kami.

Mungkin inilah do’a dari segala do’a yang selalu aku utarakan diatas sejadahku, Pada tanggal 17 Februari 2019 aku bertemu dengan nonaku untuk pertama kalinya setelah perjodohan yang telah direncanakan mereka. Dia menjemputku dengan keadaan yang sengaja kuciptakan tidak sesuai dengan keinginannya. Aku punya caraku sendiri untuk meyakinkan bahwa dialah yang bakal menjadi “nonajakor” dan ku rasa nona juga begitu.

Lekat ku tatap sang nona, ku telesuri setiap lekuk mukanya. Ya Tuhan terima kasih telah Engkau hadirkan rasa cinta padaku. Gambaran rumah tangga yang menyenangkan aku lihat pada dirinya. Ya Tuhan kenapa aku tidak sadar bahwasannya Engkau tidak akan mengabulkan apa yang aku ingin melainkan apa yang aku butuh. Bukankah sesungguhnya Engkah telah berjanji akan menghadiahi aku tiket ke surgaMu jika aku ikhlas? Aku tau wanita yang ada didepanku bukanlah wanita yang shalih begitupun denganku ya Tuhan, akan tetapi ridho’ilah kami menyatu dalam hubungan yang sah melalui ijab dan qobul sesuai syariahMu. Amin

“Rabbanaa hablanaa min azwaajinaa wa dzuriyyatinaa qurrota a’yun”

(Bung_jakor)
















iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Stars Rally to Beat Predators in Winter Classic at Cotton Bowl