Kopi terakhir di sabtu malam yang diwarnai dengan kepingan gelisah seakan menyeruak di benak ini.
Yaaa, gelisah yang mendatangi kelajanganku. Sang bintang yang setia menemani
sang bulan seakan sedang mengeluarkan lidahnya untuk mencibir kelajanganku. Kebanyakan
orang tua khawatir jika anaknya yang sudah berumur belum juga menikah. Bukan
sekedar lagi bertanya, “Kapan nikah?”, tetapi juga mulai berencana untuk
menjodohkannya. Sebagai anak, tentu ada perasaan tidak enak jika menolak
keinginan orang tua.
Apalagi aku mulai
tertekan dengan pertanyaan tentang menikah terus menerus, mulai dari orang tua,
om, tante, teman-teman, dan keponakan serta yang terakhir adikku. Yang tambah
membuat aku kepikiran adalah saat adikku sudah memiliki calon untuk menikah dan
si dia berhasil melangkahiku dalam status pernikahan.
Padahal umurku telah memasuki kepala tiga atau 30 tahun,
orang tua terlebih Ibu mulai panik saat anaknya belum juga menikah. Kebetulan
dia berencana untuk mengenalkan anak temannya kepadaku, dan aku menyebutnya
“Perjodohan dari Tuhan”.
Akhirnya aku mulai percaya
dengan kisah cerita perjodohan yang terjadi pada abad ke-20 di Sumatra Barat. Seperti
zaman Siti Nurbaya namun perjodohan yang terjadi pada kisahku adalah perjodohan
di era milenial.
Kisah itu berawal dari
cengkrama ringan kedua orang tua kami sambil menikmati secangkir kopi di sore
hari (yaa, kopi selalu saja membawa otak untuk menimbulkan ide-ide yang
terkadang diluar nalar), mereka saling bertanya tentang anak-anak mereka dan
timbullah niat untuk menjodohkan kedua anak mereka. Namun disini calon jodohku
sudah memiliki calon pendamping, berbeda denganku yang masih memakai gelar
single alias “jomlo”.
Setelah
lama bercengkrama, Negosiasi diantara kedua orang tua kami pun dimulai:
Pak
Saleh : Bagaimana jika kita menjodohkan anak lajangku dengan anak gadis bapak?
(Sambil menyerupuk kopinya),
Pak
Majid : Saya rasa itu ide yang bagus tapi apakah anak bapak mampu menaklukan
hati anak gadis saya?
Sambil
tersenyum Pak Saleh Menjawab : “Bapak tidak usah khawatir, saya sangat yakin
terhadap anak saya, karena anak saya itu seorang insinyur dan dia pasti punya
caranya untuk menaklukkan hati anak gadis bapak”
Dan negosiasi diantara
mereka berakhir dengan gelak tawa sambil menghabiskan kopi sorenya.
Aku sangat teringat di
malam itu, ketika ibu ku bertanya perihal apakah sudah ada calon pendamping
hidup, sebetulnya aku sangat enggan menanggapi pertanyaan tersebut dan pada
akhirnya ibuku mencoba mengenalkan aku dengan anak temannya tersebut.
Aku diam tanpa mengatakan apapun pada orang tuaku tentang keresahan ini,
itu bukan jawaban. Aku tidak mau dikatakan posesif, tapi tidak ingin dicela naïf.
Ujungnya, aku menyerah mempertanyakan tentang itu. Memilih sabar seperti yang
sudah-sudah, mereka juga sudah tahu bahwa dia sudah memiliki pasangan, tapi ibu
selalu berkata, “Semoga Tuhan meridho’i perjodohan ini."
Aku sempat tidak menerima dengan perjodohan yang digagasi oleh orang
tuaku, begitupun dengan si “nona”. Meski di awal percakapan kami terasa sangat
asik namun kerap menyimpan karaguan. Kadang harus melalui fase yang sangat
rumit. Hingga opini-opini dari orang terdekat selalu saja ikut mambaur bersama
pikiran yang kerap jungkir balik untuk mengatakan “hentikan saja perjodohan
dari orang tuamu”.
Aku hanyalah pria yang
tak bisa lepas dari cinta. Entah itu cinta yang nyata ataupun maya. Malam itu
merupakan awal dari rasa yang belum pernah aku kenal sebelumnya, rasa yang
menyebabkan suara sang nona bertengger dipikiranku, rasa yang selalu tergiang
dibenakku.
Tuhan selalu disampingku, membantu dalam melewati dari segala upaya
untuk mengakhiri semua ini sehingga aku mampu melewati fase dilema, akhirnya kami
berhasil meyakinkan hati untuk perjodohan dari Tuhan dan menetapkan tepat
ditanggal 20 Februari 2019 menjadi hari pertunangan kami.
Mungkin inilah do’a
dari segala do’a yang selalu aku utarakan diatas sejadahku, Pada tanggal 17 Februari 2019 aku bertemu dengan nonaku untuk pertama kalinya setelah perjodohan yang
telah direncanakan mereka. Dia menjemputku dengan keadaan yang sengaja
kuciptakan tidak sesuai dengan keinginannya. Aku punya caraku sendiri untuk meyakinkan
bahwa dialah yang bakal menjadi “nonajakor” dan ku rasa nona juga begitu.
Lekat ku tatap sang
nona, ku telesuri setiap lekuk mukanya. Ya Tuhan terima kasih telah Engkau
hadirkan rasa cinta padaku. Gambaran rumah tangga yang menyenangkan aku lihat
pada dirinya. Ya Tuhan kenapa aku tidak sadar bahwasannya Engkau tidak akan
mengabulkan apa yang aku ingin melainkan apa yang aku butuh. Bukankah sesungguhnya
Engkah telah berjanji akan menghadiahi aku tiket ke surgaMu jika aku ikhlas?
Aku tau wanita yang ada didepanku bukanlah wanita yang shalih begitupun denganku
ya Tuhan, akan tetapi ridho’ilah kami menyatu dalam hubungan yang sah melalui
ijab dan qobul sesuai syariahMu. Amin
“Rabbanaa hablanaa min
azwaajinaa wa dzuriyyatinaa qurrota a’yun”
(Bung_jakor)



