Di jaman teknologi maju ini masih
musim perjodohan? Yang benar saja! Itulah kalimat yang muncul dari benakku saat
aku menyeruput kopi hitam kesukaanku. Saat di mana aku tak tahu, bahwa yang ku yakini
kau adalah tulang rusukku yang hilang. Sungguh, aku tak dapat membayangkan
kalau pada hari itu aku mengikuti emosiku, aku akan menyesal seumur hidup.
Tampaknya
acara perjodohan tersebut telah direncanakan secara matang oleh mereka.
Berhari-hari lamanya kami terpaksa saling menyapa via WhatsApp. Tanpa terasa
kamipun mulai saling membutuhkan satu sama lain dan menyadari bahwa rencana
keluarga kami tidaklah salah.
Aku telah menyadari bahwa rencana Tuhan lebih indah, dimalam itu, malam yang
menghinggap dengan segala ketenangannya bersama senyuman bulan yang didampingi
oleh sang bintang, saat aku meneguk kopi bersamaan dengan jemariku yang menari-nari
diatas smartphone milikku untuk membuka pesat singkat dari wanitaku hingga
membuat diriku benar-benar percaya bahwa Tuhan memang adil dan akan bersama
dirinya setiap waktu.
Masih dengan Secangkir kopi hitam dan kenangan kita pada bayangan masa
lalu namun dapat terlebur dalam genangan pekat pada kopi itu. Yaaa… Aku rasa masa lalu telah meninggalkan kita dengan sejuta hikmah dari rencana
orang tua kita dan selalu berharap Tuhan meridhoi perjodohan ini. Keadaan seperti ini akan lebih manis bila kamu ada disampingku untuk merayakan perjodohan
dari Tuhan yang bagi kita sangatlah unik dan penuh rahasia. Akan lebih damai rasanya bila percakapan-percakapan kita mengenai masa
depan. Masa depan? Yang ada hanyalah ingatanku tentang Wanita manis dengan kerudung hijau mudanya sambil menyeruput secangkir kopi hitam kesukaanku dan kuberi nama ia “Nonajakor”. (Bung_jakor)


