![]() |
| Wali Kota Lhokseumawe Sayuti Abubakar memberikan sambutan saat pembukaan festival Literasi Kota Lhokseumawe 2026, Senin (2/11/2026). Foto: RRI |
Suaradiksi.com, Lhokseumawe — Festival Literasi Kota Lhokseumawe 2026 menjadi momentum untuk membangkitkan minat baca sekaligus memperkuat kemampuan dasar membaca di kalangan pelajar. Di balik semarak kegiatan tersebut, Wali Kota Lhokseumawe Sayuti Abubakar menyoroti masih adanya siswa sekolah dasar yang belum mampu membaca dengan baik.
Sorotan itu disampaikan Sayuti saat membuka Festival Literasi Kota Lhokseumawe, Senin (2/11/2026). Menurutnya, kemampuan membaca merupakan fondasi penting bagi anak untuk menyerap ilmu pengetahuan, mengembangkan pola pikir, dan mempersiapkan diri menghadapi tantangan masa depan.
Berdasarkan peninjauan langsung ke sejumlah sekolah, ia mengaku masih menemukan peserta didik kelas II hingga kelas V sekolah dasar yang belum lancar membaca. Kondisi tersebut, menurutnya, perlu mendapat perhatian serius dari seluruh pemangku kepentingan pendidikan.
Sayuti meminta Dinas Pendidikan, kepala sekolah, dan guru memberikan pendampingan khusus kepada siswa yang mengalami kesulitan membaca. Ia menekankan bahwa keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur dari rutinitas pembelajaran, tetapi juga dari kemampuan nyata yang dikuasai peserta didik.
"Seorang guru baru dapat merasakan keberhasilan profesinya ketika mampu memberikan hasil nyata kepada anak didiknya. Karena itu, guru harus turun langsung ke kelas dan memastikan seluruh anak mampu membaca," tegasnya.
Selain penguatan kemampuan membaca, Sayuti mengingatkan bahwa perkembangan teknologi telah memperluas kebutuhan literasi masyarakat. Kemampuan membaca dan menulis perlu diimbangi dengan literasi digital agar masyarakat mampu memahami informasi dan mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan serta teknologi.
Ia juga menyinggung pentingnya membaca dalam ajaran Islam, sebagaimana perintah Iqra atau membaca yang terkandung dalam wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW, Surah Al-Alaq ayat pertama.
Menurutnya, literasi menjadi salah satu fondasi dalam membangun sumber daya manusia berkualitas. Masyarakat yang memiliki pengetahuan dan kemampuan memahami informasi dinilai lebih siap menghadapi perubahan zaman.
Karena itu, ia turut menekankan pentingnya dukungan pemerintah terhadap peningkatan kualitas pendidikan, termasuk penyediaan fasilitas pembelajaran seperti laboratorium ilmu pengetahuan alam dan komputer.
Perpustakaan Didorong Menjadi Ruang Belajar
Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Lhokseumawe, Resi Nuridayati, mengatakan Festival Literasi yang berlangsung pada 2–5 November 2026 merupakan salah satu upaya mendorong tumbuhnya budaya membaca di kalangan pelajar dan masyarakat.
Ia menjelaskan, pihaknya telah melakukan sosialisasi dan pendataan perpustakaan, khususnya yang berada di lingkungan sekolah, sebagai bagian dari persiapan penguatan layanan literasi.
Berdasarkan pendataan tersebut, perpustakaan di Kota Lhokseumawe memiliki koleksi sebanyak 31.399 eksemplar bahan bacaan. Meski demikian, masih terdapat sejumlah perpustakaan sekolah yang membutuhkan tambahan buku untuk menunjang kebutuhan membaca siswa.
Dinas Perpustakaan dan Kearsipan, kata Resi, siap mendistribusikan bahan bacaan serta menjalin kerja sama dengan berbagai pihak guna memperluas akses masyarakat terhadap buku. Pihaknya juga sedang mengidentifikasi dan mendata program bantuan dari Perpustakaan Nasional yang diperuntukkan bagi Kota Lhokseumawe.
Resi berharap Festival Literasi dapat diselenggarakan secara berkelanjutan setiap tahun. Kehadiran pegiat literasi diharapkan mampu memberikan inspirasi dan motivasi bagi anak-anak, pelajar, serta masyarakat untuk semakin mencintai kegiatan membaca.
Ia menegaskan bahwa peningkatan minat baca membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, sekolah, keluarga, hingga komunitas literasi.
Di sisi lain, Sayuti mendorong agar perpustakaan tidak hanya dipandang sebagai tempat membaca dan meminjam buku. Perpustakaan perlu dikembangkan menjadi ruang belajar, berkarya, berinteraksi, dan mengembangkan kreativitas masyarakat.
Melalui Festival Literasi 2026, Pemerintah Kota Lhokseumawe berharap budaya membaca semakin mengakar di tengah masyarakat. Upaya tersebut diharapkan tidak berhenti pada penyelenggaraan acara, tetapi berlanjut menjadi kebiasaan sehari-hari yang mendukung lahirnya generasi berpengetahuan, kreatif, dan berdaya saing.
Sumber : RRI


