Suaradiksi.com. Lhokseumawe – Latar belakang pendidikan agama bukan penghalang bagi generasi muda untuk mengabdi kepada bangsa melalui Tentara Nasional Indonesia (TNI). Para santri di Aceh Utara dan Lhokseumawe justru didorong memanfaatkan peluang menjadi prajurit tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman yang telah ditempa di lingkungan dayah.
Ajakan tersebut mengemuka dalam silaturahmi Komandan Korem (Danrem) 011/Lilawangsa Kolonel Inf Teuku Mustafa Kamal bersama Komandan Kodim (Dandim) 0103/Aceh Utara Letkol Inf Faisal, S.Sos., M.Si., dengan Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Kota Lhokseumawe, Tgk. H. Abubakar Ismail, S.Pd., S.Ag., atau yang akrab disapa Abati Cunda, Rabu (4/11/2026).
Pertemuan yang berlangsung di kediaman Abati Cunda tersebut tidak hanya menjadi ajang mempererat silaturahmi TNI dan ulama, tetapi juga membuka ruang bagi kalangan santri untuk mengambil bagian dalam pengabdian kepada negara.
Dandim 0103/Aceh Utara Letkol Inf Faisal menegaskan, kesempatan menjadi prajurit TNI terbuka bagi seluruh generasi muda, termasuk mereka yang menempuh pendidikan di dayah, selama memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan.
Menurutnya, pendidikan agama bukanlah penghalang untuk bergabung dengan TNI. Para santri memiliki peluang yang sama untuk mengikuti proses seleksi, dengan tetap mempersiapkan kemampuan akademik, kesehatan, fisik, psikologi, serta persyaratan administrasi.
Sebagai bentuk persiapan, Kodim 0103/Aceh Utara menjadwalkan pengumpulan calon yang telah mendaftarkan diri di Makodim pada 1 Desember 2026. Mereka akan mendapatkan pembekalan awal sebelum mengikuti tahapan seleksi penerimaan prajurit TNI.
Karena itu, Faisal mengajak para pimpinan dayah, ulama, dan tenaga pendidik untuk turut menyosialisasikan informasi penerimaan prajurit TNI kepada santri yang memiliki minat dan cita-cita mengabdi kepada bangsa dan negara.
Dukungan lingkungan pendidikan, kata dia, diharapkan dapat mendorong para santri mempersiapkan diri sejak dini sehingga mampu menghadapi tahapan seleksi dengan baik.
TNI dan Ulama Perkuat Sinergi Jaga Perdamaian
Selain membahas peluang pengabdian bagi santri, pertemuan tersebut juga menegaskan pentingnya hubungan harmonis antara TNI dan ulama dalam menjaga perdamaian, persatuan, serta stabilitas keamanan di Kota Lhokseumawe dan Kabupaten Aceh Utara.
Danrem 011/Lilawangsa Kolonel Inf Teuku Mustafa Kamal menyampaikan bahwa ulama memiliki peran strategis dalam membina kehidupan keagamaan masyarakat sekaligus menjaga keharmonisan sosial.
Ia menilai komunikasi antara TNI dan ulama perlu terus diperkuat, terutama untuk membantu masyarakat menyikapi berbagai persoalan secara bijaksana dan tidak mudah terpengaruh isu maupun informasi yang berpotensi memicu perpecahan.
Danrem juga mengharapkan dukungan serta nasihat para ulama dalam pelaksanaan tugas TNI di wilayah. Dengan komunikasi yang baik, berbagai persoalan di tengah masyarakat diharapkan dapat diselesaikan melalui pendekatan persuasif, humanis, dan mengedepankan musyawarah.
Sementara itu, Abati Cunda yang juga Pimpinan Dayah Darul Ulum Al-Munawwarah menyambut baik kunjungan Danrem dan Dandim beserta rombongan. Ia mengapresiasi perhatian TNI terhadap kalangan santri, terutama dalam memberikan kesempatan untuk mengikuti seleksi penerimaan prajurit.
Abati Cunda juga menyatakan dukungannya terhadap upaya menjaga perdamaian yang telah terbangun di Aceh. Menurutnya, suasana aman dan damai merupakan modal penting bagi masyarakat untuk menjalankan aktivitas sehari-hari, mencari nafkah, serta menjalani kehidupan dengan nyaman dan tenteram.
Pihaknya menyatakan siap membantu menyosialisasikan penerimaan prajurit TNI kepada para santri sekaligus memberikan motivasi agar mereka mempersiapkan diri dari sisi akademik, kesehatan, fisik, dan mental.
Ia berharap kerja sama dengan Kodim 0103/Aceh Utara terus berlanjut sehingga para santri memiliki wawasan dan kesempatan lebih luas untuk berkontribusi kepada bangsa dan negara tanpa meninggalkan nilai-nilai agama yang menjadi fondasi pendidikan di dayah.
Silaturahmi tersebut menjadi momentum untuk mempertemukan dua peran penting dalam kehidupan masyarakat Aceh: ulama sebagai pembimbing umat dan TNI sebagai penjaga kedaulatan negara. Dari sinergi itu, diharapkan lahir generasi muda yang religius, disiplin, berjiwa nasionalis, serta siap mengabdikan diri bagi bangsa dan negara.


