Suaradiksi.com. Lhokseumawe — Pemulihan ekonomi tidak selalu dimulai dari proyek besar. Di tengah upaya masyarakat Aceh bangkit setelah bencana, geliat usaha kecil juga membutuhkan ruang untuk tumbuh, memperkenalkan produk, dan menjangkau konsumen yang lebih luas.
Semangat itulah yang dihadirkan melalui Festival Meurah Silu (FMS) 2026 yang diselenggarakan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Lhokseumawe di Harun Convention Hall, Cunda, Kota Lhokseumawe, Sabtu hingga Minggu, 31 Oktober–1 November 2026.
Sebanyak 50 pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dari 10 kabupaten/kota di wilayah kerja BI Lhokseumawe dilibatkan dalam kegiatan tersebut. Mereka membawa beragam produk unggulan daerah, mulai dari kain tradisional atau wastra, kerajinan tangan, produk dekorasi, kuliner hingga kopi Gayo.
Keterlibatan puluhan pelaku usaha itu bukan sekadar meramaikan pameran. Festival tersebut menjadi ruang pertemuan antara produk lokal dengan pasar yang lebih luas, sekaligus membuka peluang bagi UMKM untuk memperkenalkan kualitas dan keunikan produk kepada masyarakat dari berbagai daerah.
Kepala KPwBI Lhokseumawe, Yudo Herlambang, mengatakan Festival Meurah Silu dirancang untuk mengangkat potensi produk unggulan UMKM binaan BI agar semakin dikenal, bahkan mampu menembus pasar nasional.
Menurutnya, pengembangan UMKM membutuhkan dukungan promosi dan kolaborasi berbagai pihak agar produk yang dihasilkan pelaku usaha daerah memiliki kesempatan berkembang lebih besar.
"Jadi, kita ingin menunjukkan kepada masyarakat bahwa produk-produk unggulan di bawah binaan BI yang terdiri dari 10 kabupaten/kota di Aceh dapat terangkat secara nasional. Sehingga ke depannya ini bisa ditingkatkan dan memberikan multiplier effect bagi pertumbuhan ekonomi itu sendiri," kata Yudo seusai pembukaan festival, Sabtu (31/10/2026).
Ia menjelaskan, penyelenggaraan Festival Meurah Silu tahun ini juga memiliki arti penting di tengah proses pemulihan ekonomi Aceh pascabencana.
Kehadiran pengunjung dari luar daerah diharapkan tidak hanya memberikan manfaat kepada peserta bazar, tetapi turut menggerakkan sektor lain, seperti perhotelan, restoran, jasa transportasi, hingga usaha penjualan oleh-oleh.
"Kita mengingat bahwa saat ini sedang pemulihan ekonomi Aceh pascabencana. Sehingga dengan adanya festival ini tidak hanya sekadar pesta rakyat, tetapi dapat memberi dampak ekonomi baik dari sisi perhotelan, restoran, pembelian oleh-oleh maupun lainnya bisa semakin tumbuh," ujarnya.
Selain membuka ruang pemasaran bagi UMKM, Festival Meurah Silu 2026 juga menghadirkan sejumlah agenda untuk memperluas literasi ekonomi dan keuangan masyarakat.
Di antaranya Bazaar dan Expo UMKM, QRIS Wakaf Run, edukasi transaksi digital, lomba wastra, serta talkshow bertema "Pengembangan Wastra Aceh: Heritage to Global Trend".
Festival tersebut juga menghadirkan Aceh Modest Fashion Design Competition yang berkolaborasi dengan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda), layanan kas keliling penukaran uang rupiah pecahan kecil, hingga sejumlah kegiatan sosial dan hiburan.
Rangkaian kegiatan itu memperlihatkan bahwa pengembangan ekonomi daerah tidak hanya berkaitan dengan peningkatan penjualan, tetapi juga membutuhkan inovasi, pemanfaatan teknologi pembayaran, serta penguatan identitas produk lokal.
Wali Kota Lhokseumawe, Sayuti Abubakar, mengapresiasi langkah BI yang melibatkan pelaku UMKM dari berbagai kabupaten/kota di Aceh dalam festival tersebut.
Ia menilai kegiatan itu menjadi kesempatan bagi pengusaha lokal untuk memperkenalkan kreativitas dan produk unggulan agar semakin dikenal masyarakat luas.
"Kami mengapresiasi BI yang telah menggandeng para pelaku usaha yang ada di 10 kabupaten/kota di Aceh yang berada di wilayah kerja BI Lhokseumawe. Festival ini menjadi ajang promosi atau kreativitas mereka untuk lebih dapat dikenal lagi hingga tingkat nasional," kata Sayuti.
Ia berharap promosi melalui Festival Meurah Silu dapat meningkatkan daya saing produk daerah sekaligus membuka peluang pemasaran yang lebih luas, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Bagi Aceh, keberhasilan festival tidak semestinya hanya diukur dari kemeriahan acara selama dua hari. Lebih dari itu, keberlanjutan akses pasar, meningkatnya transaksi, dan terbukanya jaringan usaha baru menjadi hal penting agar manfaat kegiatan benar-benar dirasakan pelaku UMKM.
Festival Meurah Silu merupakan agenda tahunan BI Lhokseumawe dengan lokasi penyelenggaraan yang berpindah-pindah. Pada tahun sebelumnya, kegiatan serupa dilaksanakan di Kota Langsa.
Melalui penyelenggaraan tahun ini, Lhokseumawe diharapkan menjadi salah satu titik pertemuan potensi ekonomi daerah, sekaligus ruang bagi produk-produk lokal Aceh untuk melangkah lebih jauh.



