![]() |
| Direktur Utama Bank Aceh, Fadhil Ilyas |
Suaradiksi.com. Banda Aceh — Di tengah bayang-bayang pemulihan pasca bencana hidrometeorologi yang melanda Aceh di penghujung tahun lalu, Bank Aceh justru menunjukkan performa impresif pada awal 2026. Lembaga keuangan daerah ini berhasil menjaga laju pertumbuhan sekaligus mempertegas perannya sebagai penggerak ekonomi masyarakat.
Berdasarkan laporan keuangan kuartal pertama yang berakhir pada 31 Maret 2026, Bank Aceh mencatatkan total aset sebesar Rp29,89 triliun. Angka ini tumbuh 2,19 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp29,25 triliun. Kenaikan tersebut mencerminkan pengelolaan bisnis yang solid di tengah situasi yang belum sepenuhnya pulih.
Tak hanya itu, kepercayaan masyarakat juga tetap terjaga. Hal ini terlihat dari Dana Pihak Ketiga (DPK) yang mencapai Rp25,17 triliun atau tumbuh 2,47 persen secara tahunan. Capaian ini menegaskan posisi Bank Aceh sebagai salah satu pilihan utama masyarakat dalam menyimpan dana.
Dari sisi intermediasi, Bank Aceh turut mempercepat penyaluran pembiayaan yang tumbuh 3,14 persen menjadi Rp21,20 triliun. Pembiayaan ini difokuskan pada sektor-sektor produktif guna mendorong kebangkitan pelaku usaha serta memperkuat fondasi ekonomi daerah pascabencana.
Direktur Utama Bank Aceh, Fadhil Ilyas, menegaskan bahwa pertumbuhan ini bukan sekadar capaian angka, melainkan bagian dari komitmen dalam mendukung pemulihan ekonomi masyarakat.
“Strategi kami tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan, tetapi juga memastikan setiap pembiayaan yang disalurkan memberikan dampak nyata bagi masyarakat Aceh,” ujarnya.
Dengan capaian ini, Bank Aceh memperlihatkan ketangguhannya dalam menghadapi tantangan sekaligus memperkuat peran sebagai mitra strategis dalam mendorong kebangkitan ekonomi daerah.


