![]() |
| Juri mencicipi menu masakan yang disajikan dalam festival rakyat Pekan QRIS Nasional (PQN) 2025 di Kota Lhokseumawe. |
Suaradiksi.com. Lhokseumawe – Aroma masakan yang harum semerbak dari festival rakyat, sorak-sorai anak-anak dalam lomba mewarnai, hingga tawa pecah saat lomba kukur kelapa. Semua itu mewarnai Pekan QRIS Nasional (PQN) 2025 di Kota Lhokseumawe.
Namun, hanya beberapa hari berselang, suasana berubah serius di ruang rapat Kantor Perwakilan Bank Indonesia Lhokseumawe. Di sana, para pejabat berkumpul membicarakan sesuatu yang lebih senyap tapi menentukan yaitu inflasi.
Dua momen berbeda, akan tetapi di satu sisi penuh keceriaan, satu sisi lainnya penuh keseriusan, namun keduanya menyuarakan pesan yang sama, yaitu masa depan ekonomi Kota Lhokseumawe harus dijaga, dari dapur rakyat hingga genggaman digital.
![]() |
| Kepala BI Lhokseumawe, Prabu Dewanto bersama Forkopimda Lhokseumawe dalam kegiatan High Level Meeting (HLM) TPID di Kantor Bank Indonesia Perwakilan Lhokseumawe, Kamis 21 Agustus 2025. |
Juli 2025 menjadi bulan penuh catatan bagi Kota Lhokseumawe. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan inflasi 3,73 persen, tertinggi kedua di Aceh. Kenaikan harga beras dan ikan jadi biang utamanya.
“Menjelang Maulid Nabi, kita tidak boleh lengah. Harga pangan harus tetap terkendali,” ucap Wali Kota Lhokseumawe, Dr. Sayuti Abubakar, dalam High Level Meeting (HLM) TPID di Kantor Bank Indonesia Perwakilan Lhokseumawe, Kamis 21 Agustus 2025.
Di sampingnya, duduk pula Kepala BI Lhokseumawe, Prabu Dewanto, Kepala BPS, Bulog, hingga unsur Forkopimda. Semua bersatu dalam forum yang berfungsi sebagai benteng pertama menahan gejolak harga pangan.
Strategi 4K yaitu keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi dan komunikasi efektif dikemukakan BI sebagai senjata utama. Bulog memastikan stok beras cukup hingga 2026. Sementara pemerintah kota bersiap menggelar pasar murah, operasi pasar, hingga pemantauan harga digital harian.
“Kalau beras dan ikan stabil, dapur rakyat Lhokseumawe aman,” ujar Kepala BPS, Sardi, menutup paparannya.
Namun, masyarakat tentu merasakan langsung gejolak harga di pasar. “Kalau ada pasar murah, kami sangat terbantu. Harga beras sekarang tinggi sekali, apalagi menjelang Maulid. Mudah-mudahan program pemerintah benar-benar bisa menahan harga,” ungkap Fatimah (42), ibu rumah tangga asal Ujong Blang, yang ditemui seusai berbelanja di pasar.
Sementara itu, Muslem (53), pedagang ikan di Pasar Inpres, menuturkan bahwa inflasi juga memengaruhi omzetnya. “Kalau harga ikan naik, pembeli sering menawar lebih rendah. Kadang saya harus rugi sedikit supaya dagangan laku. Harapan kami, harga bisa stabil, jadi sama-sama enak antara pedagang dan pembeli,"katanya.
Di balik angka dan strategi serius itu, denyut lain Kota Petro Dollar ini tengah berpesta. Pekan QRIS Nasional 2025 (10–17 Agustus) menjadikan Lhokseumawe bak panggung besar.
Dari Waduk Lhokseumawe, Ahad Festival, hingga The Breeze Coffee, ribuan orang berkumpul. Jalan sehat QRIS diikuti masyarakat lintas usia. Anak-anak sekolah mewarnai dengan penuh tawa. Para barista unjuk gigi di Festival Kopi Saring, sementara UMKM menata produk unggulan di bazar.
Tak hanya lomba tradisional 17 Agustusan berupa balap karung, tangkap balon, hingga kukur kelapa. PQN juga menghadirkan hal yang tak biasa seperti lomba masak bahan non-inflasi. Peserta ditantang mengolah bahan-bahan yang tidak mendorong inflasi menjadi hidangan kreatif. Sebuah simbol bahwa dapur dan ekonomi digital bisa berjalan beriringan.
Malam puncak pun pecah dengan konser Bergek dan Band Apache, memadukan budaya lokal dengan semangat modern.
![]() |
| Kepala BI Lhokseumawe, Prabu Dewanto dan Sekdako Lhokseumawe A Haris saat membuka Kick Off QRIS Dinamis PBB 2.0 |
Di sela pesta rakyat itu, ada satu momentum bersejarah yaitu Kick Off QRIS Dinamis PBB 2.0. Dengan sistem ini, warga bisa membayar pajak bumi dan bangunan hanya dengan satu kali scan QRIS. Lebih cepat, akurat, dan minim kesalahan.
“QRIS bukan sekadar cara bayar. Ia adalah simbol perubahan. Kita ingin Lhokseumawe tidak hanya aman dari inflasi, tapi juga siap memasuki era digital ekonomi,” kata Kepala BI Lhokseumawe, Prabu Dewanto.
Semangat itu dirasakan masyarakat, terutama generasi muda. Rizki (21), mahasiswa yang ikut kegiatan PQN mengaku senang dengan hadirnya QRIS. “Sekarang beli kopi atau bayar jajanan tinggal scan. Lebih gampang, nggak ribet cari uang kecil. Festival ini bikin kami merasa Lhokseumawe nggak ketinggalan zaman,"sebut Rizki dengan wajah cerianya.
Hal senada diutarakan Nurhayati (50), pelaku UMKM kuliner, yang membuka lapak di bazar PQN. “Biasanya orang malas kalau harus bayar tunai besar-besar. Dengan QRIS, penjualan saya naik, karena pelanggan bisa langsung bayar lewat HP. Saya berharap digitalisasi ini bisa jalan terus, bukan hanya pas ada event.”
Dari HLM hingga PQN, Lhokseumawe seperti menampilkan dua wajahnya. Di satu sisi, ada keseriusan menjaga harga beras di pasar tradisional. Di sisi lain, ada euforia generasi muda yang membayar kopi dengan QRIS.
Dua wajah itu bukan bertentangan, melainkan saling melengkapi. Tradisi dan modernisasi berjalan seiring, demi satu tujuan yaitu menjaga kesejahteraan masyarakat.
“Dapur rakyat harus tetap berasap. Tapi generasi muda juga harus siap menghadapi dunia yang serba digital,” ujar Wali Kota Sayuti, menutup HLM dengan penuh makna.
Pada akhirnya, dua agenda besar itu meninggalkan pesan yang sama yakni kota ini sedang menapaki jalan panjang, dari menjaga tradisi dapur rakyat hingga merayakan era digital.
Inflasi dikendalikan agar rakyat bisa tenang menyambut Maulid. QRIS diperluas agar UMKM, pelajar, hingga pedagang kecil bisa merasakan manfaat digitalisasi.
Di titik ini, Lhokseumawe bukan sekadar kota industri tua di pesisir utara Aceh. Ia tengah menulis babak baru, kota yang merawat akar tradisi, sekaligus menyiapkan sayap untuk terbang ke masa depan. (Dedy)
Adventorial




