Suaradiksi.com. Takengon – Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Peusangan 1 mencatat kemajuan penting. Unit Pembangkit 1 (Unit #1) berhasil melaksanakan First Synchronization atau sinkronisasi perdana dengan sistem kelistrikan pada Sabtu (31/10/2026) pukul 23.34 WIB.
Pencapaian tersebut menjadi tonggak penting dalam proses pembangunan dan pengujian pembangkit berkapasitas total 45 megawatt (MW), yang terdiri atas dua unit masing-masing 22,5 MW. Keberhasilan ini sekaligus membawa proyek PLTA Peusangan 1 semakin dekat menuju tahap operasional.
Momentum sinkronisasi perdana tersebut terasa istimewa karena berlangsung bertepatan dengan peringatan Hari Listrik Nasional (HLN) ke-81. Capaian ini menjadi salah satu langkah nyata dalam mendukung pengembangan energi baru terbarukan (EBT), khususnya pemanfaatan potensi tenaga air di Aceh.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Manager PLN Nusantara Power Unit Layanan PLTA Peusangan, Nanda Esha Bakti, bersama perwakilan Manager PLN UPP PLTA Peusangan dan PLN Pusat Sertifikasi (PURSERTIF).
Manager PLN Nusantara Power Unit Layanan PLTA Peusangan, Nanda Esha Bakti mengatakan, keberhasilan First Synchronization merupakan bagian penting dari tahapan commissioning atau pengujian menyeluruh sebelum pembangkit dinyatakan siap beroperasi. Pada tahap ini, sistem pembangkit diuji untuk memastikan kesesuaian fungsi, parameter teknis, keselamatan, serta keandalan sesuai standar yang ditetapkan.
Capaian tersebut tidak terlepas dari sinergi dan kerja sama seluruh insan PLN bersama mitra kerja yang terlibat dalam proses pembangunan hingga pengujian pembangkit.
"Aspek keselamatan kerja, kualitas pekerjaan, dan keandalan sistem tetap menjadi prioritas dalam mengawal setiap tahapan proyek" kata Nanda.
Selanjutnya, PLTA Peusangan 1 akan melanjutkan rangkaian pengujian dan tahapan commissioning hingga seluruh unit pembangkit memenuhi persyaratan teknis untuk dioperasikan.
Menurut Nanda, dengan kapasitas terpasang mencapai 45 MW, PLTA Peusangan 1 diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap penguatan pasokan listrik, sekaligus meningkatkan pemanfaatan energi bersih dan mengurangi ketergantungan terhadap sumber energi fosil.
Keberhasilan sinkronisasi perdana ini menjadi momentum penting bagi pengembangan infrastruktur ketenagalistrikan di Aceh. Namun, perjalanan proyek belum berakhir karena masih terdapat tahapan teknis yang harus diselesaikan sebelum pembangkit dapat beroperasi secara optimal.



