Suaradiksi.com. Lhokseumawe – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Lhokseumawe melakukan penjemuran nasi sisa untuk dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu (24/10) tersebut merupakan bagian dari upaya mengoptimalkan pemanfaatan bahan yang masih layak guna sekaligus mengurangi limbah makanan di lingkungan lapas.
Kegiatan ini dilaksanakan di bawah pengawasan Kepala Subseksi Sarana Kerja (Kasubsi Sarana Kerja), Muhammad Isa. Penjemuran dilakukan sebagai salah satu tahapan pengolahan sebelum nasi sisa digunakan sebagai pakan ternak.
Pemanfaatan nasi sisa tersebut menjadi langkah sederhana dalam mendukung pengelolaan sumber daya secara efisien dan bertanggung jawab. Bahan makanan yang masih layak tidak langsung dibuang, tetapi dikelola agar dapat memberikan manfaat tambahan bagi kegiatan peternakan.
Muhammad Isa menyampaikan bahwa pengelolaan bahan sisa yang masih layak digunakan merupakan bagian dari upaya meningkatkan efisiensi dalam kegiatan pembinaan kemandirian di lingkungan lapas.
“Melalui kegiatan ini, kami berupaya memanfaatkan bahan yang masih layak digunakan agar tidak terbuang sia-sia. Selain membantu efisiensi pengelolaan pakan ternak, kegiatan ini juga mengajarkan pentingnya pengelolaan sumber daya secara bijak dan bertanggung jawab,” ujarnya.
Ia menjelaskan, proses penjemuran merupakan bagian dari pengolahan bahan sebelum dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Dalam pelaksanaannya, kebersihan, kondisi bahan, serta kesesuaian dengan kebutuhan dan jenis ternak tetap menjadi perhatian.
Program ini juga mencerminkan upaya Lapas Lhokseumawe dalam mengembangkan kegiatan pembinaan kemandirian yang mengedepankan kreativitas, efisiensi, dan pemanfaatan sumber daya secara optimal.
Melalui pengelolaan nasi sisa tersebut, Lapas Lhokseumawe berharap dapat mendukung keberlanjutan kegiatan peternakan sekaligus memperkuat penerapan prinsip pengurangan limbah dan ketahanan pangan di lingkungan pemasyarakatan.
Langkah ini menjadi salah satu bentuk pemanfaatan sumber daya yang tersedia agar lebih produktif, sekaligus mendorong budaya pengelolaan lingkungan yang lebih bertanggung jawab di dalam lapas.


